Mereka Sudah Pergi 11/2/2013

Postingan kali ini bukan mengenai postcard.

Sore (11/1/2013) pkl 16.30WIB Mama saya mendapat telefon dari Sukabumi bahwa nenek saya wafat. Ya, nenek yang saat saat awal saya kuliah (2008) pun masih kuat ke Bogor, masih menjahitkan tas saya yang disilet oleh copet di kereta dengan tangan apiknya. Saat itu umur beliau 75 tahun, Masih bisa berkunjung ke kota saya Bogor dengan menumpangi mobil umum. Beliau memang nenek yg  superr! Sukabumi – Bogor +–3 jam perjalanan dan nenek saya masih kuat saat itu. Saat beliau menginap pagi-pagi pasti suasana hangat karena lantunan ayat suci yang beliau baca sejak dinihari. Jika saya meminta izin kuliah pasti ene bilang “Sing pinternya, sakolana..”.. dan ketika saya pamer foto saya dan teman-teman pasti ene bilang “wah cucu ene we nu paling geulis iyeu mah“.. ahaha🙂 namanya juga cucu sendiri :p.

Ya, beliau sudah tidak ada sekarang. Kami memakamkannya kemarin 12/2/2013 pukul 9 pagi. Lantunan surat Yassin dan tahlil sudah kami bekali untuk nenek tercinta. Tangisan saya yg terhenti mengalir kembali saat melihat jenazahnya dimasukan ke liang lahat. Beliau tak perlu khawatir bahkan mungkin bahagia, karena semasa hidup beliau orang yg sederhana, apa adanya, baik dan soleh. Allah pasti menantikannya🙂

Saya dan ayah saya naik angkutan umum ke bogor pukul 5 sore. Karena bosan saya WhatsApp adik saya. Dia bilang, sekarang cico udah ngga ada, mati beneran. Saya pikir dia bercanda saat pagi-pagi sms kalau Chico mati. Sontak airmata saya mengalir saat itu, masih di dalam mobil colt.. Sedih, sangat sedih..

Sampai dirumah saya lihat kandang chico sudah dilipat rapi, tempat makanannya pun sudah disimpan. Adik saya bercerita bahwa Chico mati di bawah pohon rambutan di depan rumah saya. Bukan karena kedinginan, tapi mendadak mati. Saat ditemukan, dia sudah terkapar, sudah bau, mungkin matinya malam hari. Karena saat malam hari kami semua sudah di Sukabumi untuk berdoa dan mengantar kepulangan nenek kami.

Kulkas kuning masih di sana, tempat chico biasanya menunggu untuk diberi makan. Kursi pun masih di sana.. kasur saya, tempat dia tidur siang pun masih di sana.. Rasanya cepat sekali dia pergi.. Kini tak ada lagi yang menunggu dengan muka polos di samping kulkas. Tidak ada lagi yang menyundul kaki saya dengan kepala nya. Tak ada lagi kucing putih dekil berbulu lebat yang selalu datang setiap mendengar suara plastik dibuka.

Chico, sudah lima tahun 6 bulan bersama keluarga kami. Ayah mengadopsinya saat saya masih kelas 3 SMA smester awal. Saat itu saya belum berani memegang kucing. Ayah saya bilang, nih kucingnya bagus, si Iyan pengen teh Jadi bapak beli. Iyan, Adik ke2 saya. Chico kucing yang lincah, lucu, dan kuat.. Dia tumbuh bersama keluarga kami. Saat bapak masih kerja, bapak pensiun, masa-masa sulit, dan masa-masa bangkit. Mulai dari frieskes, wishkas, royal sampai sepotong ikan tongkol pernah jadi santapan rutinnya. Chico ga pernah ga mau makan, mau diganti apa pun makanannya pasti dia makan. Bahkan saat keluarga kami di masa yang sulit, Chico cuma dikasih makan ikan sehari yang mama beli RP2000 aja. Tak jarang saya menabung untuk membeli makanan chico seharga 60ribu. Tapi dua tahun belakangan udah makan kaleng lagi , saya dan adik saya bergantian membelikan 1 kaleng friskies yang habis dalam 3-5hari, kadang kalau mama kasian Chico diberi minum susu dancow putih sachet sesekali.

Chico memang dibiarkan keluar rumah, kasian di dalam rumah bosan, pasangannya pun Luna, sudah mati 5 tahun yang lalu. Chico sering kami foto bersama, bagi saya dia adalah adik ke-4 saya. Dia teman saya saat adik saya yang lain sekolah. Dia yang selalu saya elus saat saya menyapu lantai. Saya pasti berhenti di kandang cico untuk mengelusnya sementara dia tidur sambil berbisik “ya,Allah chico jgn mati dulu ya, nyaah pisaaan teteh ke cico teh, ucing teh meni kasepp”. Kemudian saya lanjutkan menyapu.

Teringat eberapa bulan lalu, saat pulang ke rumah, chico pernah datang dengan kaki pincang,pipi dan kuping berdarah, sampai sampai matanya berair terus. Saya kasihan, tak tega. Adik saya yang membersihkannya. Syukurnya beberapa minggu kemudian Chico sembuh.🙂

Chico.. Kandangnya dekat dapur, jadi setiap kita ke dapur pasti kita lihat chico, kadang saat saya lewat chico mengeong, tak perlu diberi makan, cukup di garuk bagian dada dan dagunya. Dia sudah senang, kadang saya mendorongnya supaya posisi dia tertidur, dan dia pun akan tidur dengan sendirinya.🙂

Saat saya nonton bola dinihari, saya suka mendengar suara pagar dan jendela yang didorong oleh chico.. beberapa menit kemudian kucing itu sudah naik ke kursi di belakang saya, menjilati tubuhnya kemudian tertidur. hmm.. indah banget..

Saya sering mengendong chico, menempelkan pipi saya ke pipinya yang berbulu lebat. Enak rasanya.. hihi Badanya besar, jika dipegang hangat dan lembut, saat dia tertidur pun, saya suka mengelus badannya, menempelkan tangan kanan saya diantara kedua tangannya. Dia boneka hidup saya. Di tangga pun dia bisa tertidur pulas.

Saat itu chico pernah hilang sampai 2 kali. Saya mencarinya ke rumah tetangga. Semua anak kecil saya tanya apa melihat kucing putih berbulu lebat? Jawaban mereka, tidak. Sempat putus asa rasanya.. Namun dia kembali setelah satu minggu hilang. Dengan suara khasnya dia datang dan kembali menyundul kaki kami. Tak terbayang betapa bahagianya kami saat itu. Seperti keluarga yang kehilangan anaknya, lalu anaknya berhasil melarikan diri dari penculik.

Di kehilangan selanjutnya sekitar 3-4 hari, ada yang melihat dia pergi ke hutan di belakang rumah saya. Tetangga sekitar mengaku pernah bertemu dengannya di hutan, di kuburan.. Ya.. saat dicari dia tidak ada, tapi lagi-lagi dia pulang dengan sendirinya.

Tapi sekarang, detik ini, dia benar benar hilang untuk selamanya. Kuburannya pun ada di depan rumah, pinggir teras depan.Kuburannya panjang dengan gundukan tanah di atasnya, Kata adik saya Chico mati dengan posisi tidur favoritnya. tangan kedepan dan badan memanjang terlentang. 

Oke, mungkin adik lelaki saya “Iyan” yang paling kehilangan, dia yang mengurus chico jika chico buang air sembarangan. Dia yang menangis ketika chico hilang, dia yang khawatir ketika chico menangkap tikus untuk dibunuh, dan dia yang tidak berani melerai ketika chico berantem. Dia sangat terpukul. Menguburkannya pun dia tidak berani.

Chico sudah pergi dengan umur di dunia yang hanya 5 tahun 6 bulan. Semua yang hidup pasti kembali ke tanah. Semoga di alam keabadian kita ketemu lagi ya Chico, teteh nyaah pisan ka chico  teh, ucing kasep🙂.. Semoga chico sering mampir ke mimpi teteh ya,teteh kangen :’)

cc8 cc9 
 cc1 cc2 cc3 cc4

cc5

cc6 cc7

Image

3 thoughts on “Mereka Sudah Pergi 11/2/2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s